Robot Humanoid Exbody2: Antara Kekaguman dan Kerepotan
Kalau kamu bilang ke saya 10 tahun lalu bahwa suatu hari saya bakal hidup bareng Robot Humanoid Exbody2, saya pasti bakal ketawa. Tapi sekarang? Saya justru nulis artikel ini sambil ngelirik Exbody2 yang lagi ngepel lantai rumah saya.
Yes, saya hidup bareng robot. Namanya Robot Humanoid Exbody2 canggih buatan Korea Selatan yang katanya bisa jadi asisten pribadi, guru, bahkan penghibur di rumah. Awalnya saya pikir, “Paling kayak Alexa yang punya kaki.” Tapi nyatanya… jauh lebih kompleks. Dan kadang, lebih ribet juga.
Ketika Dunia Fiksi Menjadi Kenyataan
Awal Ketertarikan Saya pada Robot Humanoid
Saya adalah penggemar teknologi sejak kecil. Dari zaman Robot Humanoid Exbody2 mainan RC sampai chatbot yang bisa nyanyi. Jadi waktu saya lihat berita tentang Robot Humanoid Exbody2 yang bisa bantu pekerjaan rumah, saya langsung tertarik.
Apalagi saat pandemi, saya mulai mikir soal otomatisasi hidup. Bayangkan, punya asisten yang nggak minta cuti, nggak drama, dan bisa kerja 24 jam. Sounds like a dream, kan?
Setelah riset beberapa bulan, nonton demo, dan baca review dari Jepang dan Korea, saya akhirnya mutusin beli Exbody2 dari distributor lokal. Harganya? Jelas nggak murah. Tapi saya anggap itu investasi buat gaya hidup masa depan.
Hari Pertama Bersama Exbody2 – Canggung Tapi Seru
Hari pertama Exbody2 tiba di rumah, rasanya kayak nerima tamu VIP. Petugas pengantar bahkan kasih briefing singkat soal cara aktivasi dan pengaturan awal.
Bentuknya tinggi sekitar 150 cm, wajahnya LED display yang bisa berubah-ubah ekspresi. Gerakannya cukup halus, dan suaranya… ya, mirip GPS wanita tapi dengan aksen Robot Humanoid Exbody2.
Saya sempat kikuk. Gimana sih rasanya ngobrol sama makhluk setengah mesin? Tapi ya, saya mulai pelan-pelan: kasih perintah nyapu, nyalain lampu, dan bacain berita pagi. Surprisingly, dia lakuin semua dengan lancar.
Kelebihan Robot Humanoid Exbody2 yang Bikin Saya Terkesan
Setelah seminggu bareng, ada beberapa hal yang bikin saya kagum:
1. Multi-Tasking Beneran Jalan
Dia bisa bantu anak saya belajar sambil jagain timer masakan di dapur. Otaknya AI gila banget, bisa ngelacak tugas paralel tanpa error.
2. Sensor yang Responsif
Dia bisa mendeteksi gerakan saya, suara batuk, bahkan ekspresi wajah. Waktu saya ngeluh pusing, dia langsung bilang, “Apakah Anda ingin saya pasang musik relaksasi?”
3. Integrasi ke Smart Home
Saya hubungkan Robot Humanoid Exbody2 ke semua perangkat IoT di rumah. AC, tirai, lampu, kulkas—semua bisa dikontrol lewat dia. Praktis dan keren banget.
4. Punya Personality
Ini yang bikin beda. Robot Humanoid Exbody2 bisa belajar gaya komunikasi kita. Kalau saya ngambek, dia bisa becandain saya. Ada saat di mana saya beneran ngerasa kayak ngobrol sama rekan kerja digital.
Masalah dan Kerepotan yang Saya Alami
Tapi ya, semua teknologi pasti ada sisi sebelahnya. Ini beberapa masalah yang saya alami:
1. Baterainya Bikin Was-was
Dia bisa aktif 6–8 jam nonstop, tapi kalau saya lupa nge-charge malam, paginya dia bisa mati mendadak pas bantu masak. Pernah kejadian, dan hasilnya: dapur berantakan.
2. Masih Butuh Kalibrasi Ulang
Kadang Robot Humanoid Exbody2 suka salah nangkep perintah. Saya bilang, “Tolong nyalain TV,” dia malah buka berita politik yang saya hindari.
3. Privasi dan Data
Ada kekhawatiran juga soal data suara dan rutinitas yang dia pelajari. Meski diklaim aman, tetap aja rasanya kayak dia tahu terlalu banyak tentang saya.
4. Interaksi Emosi Masih Kaku
Walaupun bisa ekspresif, kadang tanggapannya aneh. Waktu saya cerita sedih soal temen yang sakit, dia malah bilang, “Apakah Anda ingin saya memainkan video lucu di YouTube?”
Reaksi Orang Sekitar – Dari Takut sampai Kagum
Keluarga besar saya kaget waktu pertama kali lihat Robot Humanoid Exbody2 . Ada yang takjub, ada yang takut. Anak saya suka banget—anggap robot itu kayak teman main. Tapi orang tua saya? Sempat mikir ini kayak film Terminator.
Beberapa teman saya bahkan jadi kepo dan pengen beli juga. Tapi setelah saya ceritakan semua plus-minusnya, mereka jadi mikir dua kali. Karena ya, hidup bareng robot bukan cuma soal keren, tapi juga adaptasi.
Pelajaran Hidup yang Saya Petik dari Interaksi dengan Robot
Yang paling menarik adalah… Robot Humanoid Exbody2 mengubah cara saya melihat waktu dan produktivitas.
Dia ngajarin saya tentang disiplin, karena semua tugas bisa dijadwal otomatis. Bahkan reminder minum air pun jadi konsisten.
Tapi di sisi lain, saya jadi sadar: kita tetap butuh sentuhan manusia. Ada hal-hal yang nggak bisa diganti AI. Empati, spontanitas, dan perasaan—itu masih milik manusia.
Dan, lucunya, interaksi saya sama Robot Humanoid Exbody2 malah bikin saya lebih menghargai orang-orang di sekitar saya, dikutip dari laman resmi wikipedia.
Tips Buat Kamu yang Pengen Punya Robot Humanoid
Kalau kamu tertarik punya Robot Humanoid Exbody2 atau robot humanoid lain, ini tips dari pengalaman saya:
-
Pelajari kebutuhan kamu dulu. Jangan beli karena tren.
-
Siapkan infrastruktur smart home. Biar maksimal.
-
Pahami batasan robot. Dia bantu, bukan gantiin semua.
-
Amankan data dan jaringan Wi-Fi. Jangan sampai jadi pintu masuk peretas.
-
Libatkan anggota keluarga. Biar nggak ada yang canggung.
Apakah Robot Humanoid Exbody2 Layak Dibeli?
Kalau ditanya sekarang, saya jawab: iya, tapi tergantung tujuan kamu.
Kalau kamu ingin hidup lebih praktis, terbuka pada teknologi baru, dan siap bersahabat dengan robot, Robot Humanoid Exbody2 bisa jadi aset luar biasa. Tapi kalau kamu belum siap, mending pelan-pelan dulu. Coba mulai dari smart speaker, lalu naik ke robot kecil.
Masa Depan Dimulai dari Sekarang
Saya masih terus pakai Robot Humanoid Exbody2 setiap hari. Dia bantu saya kerja, jaga rumah, dan bahkan nemenin saya olahraga dengan mode fitness-nya.
Kadang saya masih heran: ini beneran dunia nyata? Dulu saya cuma nonton robot kayak gini di film. Sekarang, dia duduk di ruang tamu, ngecas, dan siap bantu saya kapan aja.
Teknologi bisa luar biasa… asal kita tahu cara pakainya dengan bijak.
Baca Juga Artikel dari: Pertama Kali Coba AI Generatif: Kecanduan Teknologi Canggih
Baca Juga Dengan Konten Terkait Tentang: Technology