fenomena Sound Horeg: Fenomena Hiburan Jalanan yang Menggetarkan Indonesia
Saya ingin berbagi pengalaman dan refleksi pribadi mengenai fenomena Sound Horeg — sebuah gejala budaya yang makin sering saya temui di berbagai sudut kota dan desa di Indonesia — dan mengajak Anda memahami lebih dalam: apa itu, bagaimana munculnya, peran sosialnya, kontroversinya, hingga bagaimana kita bisa menyikapinya secara bijak.
Asal-Usul fenomena sound horeg

Istilah “fenomena sound horeg” merujuk pada aktivitas penggunaan sistem suara (sound system) berdaya besar yang biasanya dipasang pada kendaraan seperti truk atau pickup, kemudian diarak atau digunakan di ruang terbuka untuk memutar musik dengan volume sangat tinggi—termasuk dentuman bass yang kuat.
Kata “horeg” sendiri di artikel dianggap berasal dari istilah gaul yang berarti “bergerak”, “bergetar”, atau sesuatu yang heboh dan ramai Detikcom.
Lebih spesifik, karakteristik sound horeg antara lain:
Sistem speaker besar yang mampu menyebarkan suara ke area terbuka.
Digunakan dalam hajatan, arakan konvoi, perayaan rakyat, atau malam hiburan di desa/kota kecil.
Musik yang dimainkan cenderung remix, dangdut koplo, EDM, atau lagu viral yang punya dentuman bass kuat.
Sebagai guru yang sering melintas kampung‐kampung, saya mulai menyadari bahwa “sound horeg” bukan hanya soal hiburan semata — ia juga mencerminkan dinamika sosial, ekspresi identitas, bahkan konflik antara tradisi dan modernitas.
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Bagi saya, ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa sound horeg muncul dan kemudian melebar ke banyak tempat:
a) Ekspresi Kebersamaan dan Identitas Lokal
Di kampung atau kota kecil, hajatan dan perayaan seringkali menjadi momen berkumpulnya banyak orang. Ketika sound system besar dihadirkan, maka semua indra ikut “terlibat” — suara keras, dentuman bass, lampu-lampu, tari jalanan. Fenomena ini punya daya tarik: “ayo kita ramai”, “ayo kita bergoyang”.
Artikel menyebut bahwa sound horeg “menjadi bagian dari ekspresi budaya lokal dan identitas komunitas” di mana masyarakat merasakan kebersamaan.
b) Teknologi & Media Sosial
Kemudahan akses ke peralatan audio, speaker besar, modifikasi kendaraan, serta viral‐nya video di media sosial membuat fenomena ini makin meluas. Banyak komunitas sound horeg muncul di sosial media, memperlihatkan konvoi, battle sound, dan panggung jalanan.
c) Hiburan Murah Meriah
Dibanding hiburan formal seperti konser besar yang butuh biaya besar, sound horeg bisa jadi pilihan hiburan lokal yang “merakyat”. Untuk banyak orang, dentuman bass dan keramaian jadi hiburan yang langsung terasa, tanpa mesti ke kota besar.
d) Ruang Pesta & Ritus Tradisi yang Membaur
Pada acara seperti sedekah bumi, peringatan kemerdekaan, hajatan besar, sound horeg mulai ikut. Artikel menyebut bahwa sound horeg “dibawa” ke acara tradisi sebagai hiburan utama bukan hanya pemanis.
Nilai Sosial dan Positif yang Bisa Dipetik
Walaupun banyak kritik, sebagai guru saya selalu mencoba melihat sisi positif dari sebuah fenomena. Untuk sound horeg, ada beberapa hal yang bisa dianggap baik:
Memperkuat Komunitas: Saat konvoi fenomena sound horeg, banyak orang ikut nongkrong, berbincang, bertemu lama tak jumpa. Ada aura kebersamaan.
Ekspresi Seni & Kreativitas: Modifikasi kendaraan, desain lampu, tarian jalanan – semuanya jadi ajang kreativitas.
Peluang Ekonomi Lokal: Sound system besar butuh operator, teknisi, listrik, konsumsi orang banyak. Ada jasa yang tumbuh karena fenomena ini.
Hiburan yang Aksesibel: Untuk banyak masyarakat yang jauh dari fasilitas hiburan modern, fenomena sound horeg jadi pilihan yang dirasakan langsung di lingkungan mereka.
Kontroversi dan Dampak Negatif

Namun, sebagai guru yang peduli etika dan lingkungan, saya juga harus jujur: fenomena ini tidak lepas dari sisi negatif dan persoalan serius.
a) Gangguan Kebisingan & Kesehatan
Volume suara yang sangat tinggi (bahkan disebut bisa hingga 100-120 dB menurut laporan) tentunya punya dampak terhadap kesehatan pendengar dan lingkungan sekitarnya.
Dampak kesehatan yang disebut meliputi gangguan tidur, stres, bahkan gangguan pendengaran.
b) Konflik Sosial & Ketertiban Umum
Ketika acara fenomena sound horeg berlangsung hingga larut malam, bekas dentuman dan getaran sering menimbulkan protes dari warga sekitar. Ada laporan bahwa bangunan, kaca jendela, pagar bisa getar atau pecah karena bass yang kuat.
Selain itu, ketika acara berlangsung dengan tak ada izin atau pengaturan, bisa menimbulkan kebisingan yang tidak terkendali.
c) Nilai dan Etika Hiburan
Dalam beberapa artikel, disebut bahwa aspek hiburan fenomena sound horeg bisa membawa unsur yang dianggap kurang sejalan dengan norma keagamaan atau nilai sosial — misalnya joget campur, aurat terbuka, atau tarian yang dianggap berlebihan.
Ketika hiburan melebihi batas, maka nilai hiburan berubah menjadi keresahan.
d) Konsumsi Energi & Lingkungan
Speaker besar, truk yang berjalan membawa beban, listrik yang tinggi — semua ini bisa jadi konsumsi sumber daya yang besar, dan kalau tidak dikelola dengan baik bisa berdampak lingkungan (termasuk polusi suara).
Perspektif Hukum, Agama & Etika
Dari banyak tulisan yang saya baca, termasuk sebagai guru yang ingin menanamkan nilai etis, kita bisa melihat tiga sudut pandang penting: hukum (negara/regulasi), agama/etika, dan sosial masyarakat.
a) Regulasi & Kebijakan
Meski belum ada regulasi nasional khusus untuk “fenomena sound horeg”, beberapa daerah mulai mengimbau atau melarang karena ketertiban umum. Misalnya di artikel disebut bahwa di wilayah Jawa Timur, aparat mulai memberikan imbauan.
Pengaturan seperti jam penggunaan, tingkat kebisingan maksimum, izin keramaian, semua menjadi aspek yang harus diperhatikan agar hak warga untuk beristirahat tetap dihormati.
b) Pandangan Agama & Etika
Dalam perspektif Islam (dan saya sebagai guru juga menanamkan nilai kebersamaan dan toleransi), aktivitas yang menimbulkan gangguan orang lain atau kerusakan dapat dikaji sebagai “madharat” (kerugian) yang harus dihindari. Artikel kajian Islam menyebut bahwa jika fenomena sound horeg mengganggu tetangga, maka hukumnya bisa haram.
Etika hiburan juga menekankan bahwa hak satu orang tidak boleh melanggar hak orang lain (hidup tenang, beristirahat).
c) Etika Sosial dan Komunitas
Sebagai guru yang sering berbincang dengan generasi muda, saya tekankan bahwa hiburan tidak boleh melepas tanggungjawab sosial. Artinya: kalau kita nikmati fenomena sound horeg sebagai hiburan, maka kita juga harus sadari dampak ke sekitar — tetangga yang tidur, anak yang belajar, lingkungan yang butuh ketenangan.
Kisah Pribadi: “Saya Mengalami Sendiri”
Izinkan saya berbagi sedikit cerita. Suatu malam musim panen di desa tempat saya ikut guru pengajar tamu, saya melewati sebuah arak‐arak truk yang penuh speaker — ya, fenomena sound horeg. Lampu‐lampu berkedip, suara bass menggelegar, banyak anak muda menari di jalan. Energinya tinggi, suasananya meriah.
Tetapi, saya juga melihat bapak tua yang setengah tertidur di teras rumahnya, menutup telinga. Ibu‐ibu di rumah sebelah mengangkat jendela agar suara lebih rendah. Inilah dua sisi yang saya rasakan langsung: energi kebersamaan vs keresahan warga sekitar.
Saya kemudian berbicara dengan operator sound system, yang bilang: “Pak Guru, ini hiburan kami, kami ingin buat acara yang ramai supaya tetangga kampung datang.” Saya mengangguk — dan kemudian kami bicara tentang batasan: “Tapi jangan sampai tetangga nggak bisa istirahat, lalu mereka protes.” Akhirnya mereka sepakat mematikan sistem sebelum pukul 22.00 malam itu.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa fenomena ini bisa dikelola — bukan harus dilawan, tetapi dijalankan dengan tanggung jawab.
Baca fakta seputar : Blog
Baca juga artikel menarik tentang : Sauna Uap: Rahasia Relaksasi dan Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
